Dies Natalis ke-36 Falkultas Kedokteran

24.04.2018 Humas

dr. M. Yamin Orasi Ilmiah Penyakit Peradaban

Perkembangan peradaban menjadi langkah positif menuju keberlangsungan hidup yang panjang dan berkualitas. Namun, percepatan perkembangan peradaban telah menyebabkan munculnya efek samping terhadap kesehatan manusia.

“Seiring dengan semakin majunya suatu negara, angka harapan hidup terus meningkat dari tahun ke tahun, namun tidak semua perubahan ini berdampak positif pada kesehatan”.

Hal itu disampaikan Dr. dr. M. Yamin, Sp.Jp(K), FIHA, FSCAI, saat orasi ilmiah “Mempertahankan dan Memelihara Peradaban Manusia Melalui Irama Kehidupan: Sebuah Terobosan di Bidang Aritma dan Pacu Jantung” di Aula Fakultas Kedokteran, Senin (23/4).

Dr. dr. M. Yamin menjelaskan, terminologi ‘Penyakit peradaban’ merupakan istilah yang kerap dipakai oleh pakar untuk menggambarkan berbagai kondisi kronis yang muncul seiring dengan tumbuh dan majunya suatu peradaban. Ia menyebutkan contoh dari penyakit peradaban itu di antaranya penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, penyakit sistem respirotari yang disebabkan oleh polusi lingkungan dan merokok, obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, dan osteoporosis.

“Intinya penyakit peradaban ini adalah masalah kesehatan pada negara yang menjalani proses industrialisasi menjadi lebih maju dan menimbulkan pola hidup modern, sehingga masyarakat tidak pernah olahraga dan malas bergerak”, ujarnya.

Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-36 Falkultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ini, membahas tentang penyakit peradaban di bidang kardiovaskuler gangguan irama jantung (aritmia) dan gagal jantung yang memerlukan pacu jantung. Fokus pembahasannya pada perkembangan patofisiologi dan tatalaksananya.

Di akhir orasi, dr. M. Yamin mengingatkan bahwa peradaban memperbaiki kualitas hidup. Tetapi ancaman terhadap kesehatan menimbulkan paradigma baru yang perlu kita waspadai dan menjadi perhatian bersama. M. Amin menyebutkan, berdasarkan data World Health Organization (WHO), hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahunnya.

 “Oleh karena itu, proses pembelajaran di Fakultas Kedokteran mengenai ‘penyakit peradaban’ dan perkembangan teknologi kesehatan terutama mengenai teknologi sitem terapi terbaru menjadi hal yang penting untuk dilakukan,” imbuhnya. (mks)