PPLH-SDA Unsyiah kembali Gelar Diklat Amdal

09.10.2018 Humas

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PPLH-SDA) Universitas Syiah Kuala kembali menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Angkatan XXII, 9-22 Oktober 2018 di kantor PPLH-SDA Unsyiah, Darussalam. Diklat dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Marwan, Selasa (9/10).

Marwan menyebutkan jika setiap pembangunan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan, baik itu dampak positif maupun negatif.  Oleh karena itu, Marwan berharap diklat ini dapat melahirkan pemahaman baik dalam menghadirkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif bagi lingkungan.

“Diperlukan penyusunan amdal yang baik serta profesional agar dapat meminimalisir dampak negatif pembangunan,” ujar Marwan.

Ia juga menambahkan jika penyusunan amdal bukan sekadar dokumen saja, tetapi juga harus dilakukan dengan studi kelayakan, sehingga kerusakan lingkungan dapat dihindari.

Koordinator Diklat, Dr. Nasrul AR, ST., MT, menjelaskan, kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama PPLH-SDA Unsyiah dengan BPP-SDM Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Di samping itu, Diklat Angkatan XXII ini disponsori oleh Wildlife Conservation Society (WCS)-Indonesia Program.

“Tahun 2018 pihak WCS memiliki program tentang pengawalan pembangunan infrastruktur di wilayah barat dan timur Indonesia dengan konsentrasi utama di Provinsi Aceh. Oleh karena itu, WCS meminta PPLH-SDA Unsyiah untuk melakukan pendidikan dan pelatihan amdal ini.”

Perwakilan Wildlife Conservation Society (WCS)-Program Indonesia, Ir. Sutisnawaty  Nando, M. Sc., mengatakan diklat amdal ini penting untuk dilakukan guna menumbuhkan kesadaran dalam menjaga habitat satwa liar di lokasi pembangunan infrastruktur. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama dan keterlibatan dari pihak-pihak pengambil keputusan dalam menjaga lingkungan. Terlebih lagi menurutnya, di beberapa kabupaten di Indonesia tenaga amdal sangat kurang.

“Tujuan pembangunan adalah untuk menyejahterakan masyarakat, tetapi kita juga harus melakukan konservasi dan menjaga lingkungan dengan baik. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas SDM di Aceh untuk mengawal dampak dari pembangunan,” ujarnya.

Kegiatan ini turut diikuti perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Aceh Tengah, Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tengah, Dinas Lingkungan Hidup Gayo Lues, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh Selatan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, DLHK Prov Aceh, Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, serta instansi terkait. [Humas Unsyiah]