Unsyiah Gelar Seminar Publik Syekh Abdurrauf

08.11.2018 Humas

Universitas Syiah Kuala melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar seminar publik yang bertemakan Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Perannya dalam Pengembangan Pendidikan di Balai Senat Unsyiah. Hadir sebagai pemateri pada kegiatan ini Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Sejarawan Unsyiah Dr. M. Adli., SH MCL dan Akademisi UIN Ar Raniry Prof.Dr. Misri. (Kamis, 8/11).
 
Wakil Rektor I Unsyiah Prof. Dr. Marwan dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan, kegiatan ini adalah rangkaian dari kegiatan Milad Unsyiah yang 57 tahun. Marwan menjelaskan, melalui kegiatan ini Unsyiah ingin menggali kembali peran yang telah dilakukan Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili yang namanya telah ditabalkan menjadi nama perguruan tinggi ini sejak 1961.
 
“Kita perlu menggali lagi sejarah ini agar lebih paham dan menjadi panutan kita untuk ke depan. Dan kita berharap seminar ini bisa membuka wawasan kita untuk semakin mengenali ulama besar Aceh ini,” ucap Marwan.
 
Rektor dalam paparannya mengatakan, Syeikh Abdurrauf merupakan sosok yang sangat berpengaruh dan berperan penting bagi kerajaan Aceh saat itu. Sampai namanya ditabalkan dalam sebuah syair: Adat bak poteu merhom,  hukom bak syiah kuala, yang maknanya adalah adat di bawah kerajaan/pemimpin, sementara hukum syariat islam di bawah Tengku Syekh Abdurrauf As-Singkili.
 
Menurut Rektor, syair ini menjelaskan betapa besarnya peran beliau bagi kegemilangan Aceh ketika itu. Dengan kedalaman ilmunya, beliau menjadi penerang bagi masyarakat Aceh yang saat itu menjadi kiblat pendidikan di Asia Tenggara.
 
“Semangat serta inspirasi Syeikh Abdurrauf dalam menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu pengetahuan se Asia Tenggara, turut menjadi jiwa dan cita-cita segenap civitas akademika Unsyiah untuk selalu memberikan pengabdian yang tulus,” ucap Rektor.
 
Dr. M. Adli mengatakan, sebuah keputusan yang sangat tepat saat nama Unsyiah diambil dari nama Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili. Sebab selain seorang ulama besar, beliau juga profesor dengan kedalaman ilmu yang luas. Bahkan fatwa ataupun ilmunya masih dipakai sampai hari ini.
 
Beberapa kitab beliau telah menjadi rujukan dalam mengambil keputusan. Misalnya, saat beliau mengarang kitab fatwa bahwa perempuan bisa menjadi raja. Fatwa ini ternyata menjadi rujukan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, yang saat itu negaranya masih ribut terkait kepemimpinan perempuan.
 
“Selain itu, beliau juga adalah orang pertama yang menterjemahkan al Quran dalam bahasa Indonesia yang sampai hari ini masih dibaca orang,” ucap Dosen Fakultas Hukum Unsyiah ini.
 
Sementara itu Prof. Misri mengatakan, ada dua faktor yang mendukung Syeikh Abdurrauf menjadi dikenal luas melewati batas-batas nusantara. Pertama, karena beliau sangat produktif dalam menulis. Karya-karyanya menjadi khazanah kelilmuan yang terus dinikmati sampai saat ini.
 
“Ada 37 buku yang merupakan karya beliau, jumlah 37 itu pada zamannya sudah luar biasa. Bahkan pada zaman sekarang saja langka sekali menemukan orang dengan karya sejumlah itu,” ucap Prof. Misri.
Kedua, beliau tersohor karena merupakan seorang guru yang murid-muridnya tersebar sampai ke seluruh Asia Tenggara. Hal ini juga sangat terkait dengan usia beliau yang sangat muda dan masa pengabdiannya yang panjang.
 
“Jumlah muridnya bisa banyak seperti ini karena beliau masih muda, mulai 1615 sampai 1693 adalah rentang pengabdiannya. Nah, semangat pengabdian inilah yang harus kita teladani,” ucapnya.